ﻳﺎ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﺴﺮ ﻣﻨﺎ ﻻ ﺗﻬﺘﻚ ﺍﻟﺴﺘﺮ ﻋﻨﺎ
Yâ ‘âlimas-sirri minnâ lâ tahtikis-sitro ‘annâ
ﻭﻋﺎﻓﻨﺎ ﻭﺍﻋﻒ ﻋﻨﺎ ﻭﮐﻦ ﻟﻨﺎ ﺣﻴﺚ ﮐﻨﺎ
Wa ‘âfinâ wa’fu ‘annâ wa kun lanâ haytsu kunnâ
ﻳﺎ ﺭﺏ ﻳﺎ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺇﻟﻴﻚ ﻭﺟﻬﺖ ﺍﻵﻣﺎﻝ
Yâ robbi yâ ‘âlimal hâl ilayka wajjahtul ãmâl
ﻓﺎﻣﻨﻦ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺎﻹﻗﺒﺎﻝ ﻭﮐﻦ ﻟﻨﺎ ﻭﺍﺻﻠﺢ ﺍﻟﺒﺎﻝ
Famnun ‘alainâ bil iqbâl wa kun lanâ washlihil
bâl
ﻳﺎ ﺭﺏ ﻳﺎﺭﺏ ﺍﻷﺭﺑﺎﺏ ﻋﺒﺪﻙ ﻓﻘﻴﺮﻙ ﻋﻠﯽ ﺍﻟﺒﺎﺏ
Yâ robbi yâ robbal arbâb ‘abduka faqîruk ‘alâl
bâb
ﺍﺗﯽ ﻭﻗﺪ ﺑﺖ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻣﺴﺘﺪﺭﮐﺎ ﺑﻌﺪ ﻣﺎﻣﺎﻝ
Atâ waqod battal asbâb mustadrikan ba’da
mâmâl
ﻳﺎ ﻭﺍﺳﻊ ﺍﻟﺠﻮﺩ ﺟﻮﺩﻙ ﻓﺎﻟﺨﻴﺮ ﺧﻴﺮﻙ ﻭﻋﻨﺪﻙ
Yâ wâsi’al jûdi jûdak fal khoiru khoiruk wa
‘indak
ﻓﻮﻕ ﺍﻟﺬﯼ ﺭﺍﻡ ﻋﺒﺪﻙ ﻓﺎﺩﺭﻙ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻓﯽ ﺍﻟﺤﺎﻝ
Fauqolladzî rôma ‘abduk fadrik birohmatika fîl
hâl
ﻳﺎ ﻣﻮﺟﺪ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻃﺮﺍ ﻭﻣﻮﺳﻊ ﺍﻟﮑﻞ ﺑﺮﺍ
Yâ mûjidal kholqi thurrô wa mûsi’al kulli birrô
ﺃﺳﺌﻠﻚ ﺍﺳﺒﺎﻝ ﺳﺘﺮﺍ ﻋﻠﯽ ﺍﻟﻘﺒﺎﺋﺢ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﻝ
As-aluka-sbâla sitrô ‘alâl qobâ-ihi wal akhthôl
ﻳﺎ ﻣﻦ ﻳﺮﯼ ﺳﺮ ﻗﻠﺒﯽ ﺣﺴﺒﯽ ﺍﻃﻼﻋﻚ ﺣﺴﺒﯽ
Yâ man yarô sirro qolbî hasbîththolâ’uka hasbî
ﻓﺎﻣﺢ ﺑﻌﻔﻮﻙ ﺫﻧﺒﯽ ﻭﺍﺻﻠﺢ ﻗﺼﻮﺩﯼ ﻭﺍﻷﻋﻤﺎﻝ
Famhu bi’afwika dzanbî washlih qushûdî wal
a’mâl
ﺭﺏ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻋﺘﻤﺎﺩﯼ ﮔﻤﺎ ﺇﻟﻴﻚ ﺍﺳﺘﻨﺎﺩﯼ
Robbi ‘alaika’timâdî kamâ ilaika-stinâdî
ﺻﺪﻗﺎ ﻭﺍﻗﺼﯽ ﻣﺮﺍﺩﯼ ﺭﺿﺎﺅﻙ ﺍﻟﺪﺍﺋﻢ ﺍﻟﺤﺎﻝ
Shidqôn wa aqshô murôdî ridlô-ukad-dâ-imul hâl
ﻳﺎﺭﺏ ﻳﺎﺭﺏ ﺇﻧﯽ ﺍﺳﺄﻟﻚ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﻋﻨﯽ
Yâ robbi yâ robbi innî as-alukal ‘afwa ‘annî
ﻭﻟﻦ ﻳﺨﻴﺐ ﻓﻴﻚ ﻇﻨﯽ ﻳﺎﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻳﺎﻭﺍﻝ
Wa lan yakhîb fîka dhonnî yâ mâlikal mulki yâ
wâl
ﺃﺷﮑﻮ ﺇﻟﻴﻚ ﻭﺃﺑﮑﯽ ﻣﻦ ﺷﺆﻡ ﻇﻠﻤﯽ ﻭﺇﻓﮑﯽ
Asykû ilaika wa abkî min syu,mi dhulmî wa ifkî
ﻭﺳﻮﺀ ﻓﻌﻠﯽ ﻭﺗﺮﮐﯽ ﻭﺷﻬﻮﺓ ﺍﻟﻘﻴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺎﻝ
Wa sû-i fî’lî wa tarkî wa syahwatil qîl wal qôl
ﻭﺣﺐ ﺩﻧﻴﺎ ﺫﻣﻴﻤﺔ ﻣﻦ ﮐﻞ ﺧﻴﺮ ﻋﻘﻴﻤﺔ
Wa hubbi dunyâ dzamîmah min kulli khoirin
‘aqîmah
ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺒﻼﻳﺎ ﻣﻘﻴﻤﺔ ﻭﺣﺸﻮﻫﺎ ﺍﻓﺎﺕ ﻭﺍﺷﻐﺎﻝ
Fîhâl balâyâ muqîmah wa hasywuhâ âfâtun
wasyghôl
ﻳﺎ ﻭﻳﺢ ﻧﻔﺴﯽ ﺍﻟﻐﻮﻳﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﺍﻟﺴﻮﻳﺔ
Yâ wayha nafsîl ghowiyyah ‘anis-sabîlis-
sawiyyah
ﺃﺿﺤﺖ ﺗﺮﻭﺝ ﻋﻠﯽ ﻭﻗﺼﺪﻫﺎ ﺍﻟﺠﺎﻩ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ
Adlhat turowwij ‘alayya wa qoshduhâl jâh wal
mâl
ﻳﺎﺭﺏ ﻗﺪ ﻏﻠﺒﺘﻨﯽ ﻭﺑﺎﻷﻣﺎﻧﯽ ﺳﺒﺘﻨﯽ
Yâ robbi qod gholabatnî wa bil amânî sabatnî
ﻭﻓﯽ ﺍﻟﺤﻈﻮﻅ ﮔﺒﺘﻨﯽ ﻭﻗﻴﺪﺗﻨﯽ ﺑﺎﻷﮐﺒﺎﻝ
Wa fîl hudhûdhi kabatnî wa qoyyadatnî bil akbâli
ﻗﺪ ﺍﺳﺘﻌﻨﺘﻚ ﺭﺑﯽ ﻋﻠﯽ ﻣﺪﺍﻭﻣﺔ ﻗﻠﺒﯽ
Qodista’antuka robbî ‘alâ mudâwamati qolbî
ﻭﺣﻞ ﻋﻘﺪﺓ ﮔﺮﺑﯽ ﻓﺎﻧﻈﺮ ﺇﻟﯽ ﺍﻟﻐﻢ ﻳﻨﺠﺎﻝ
Wa halli ‘uqdati karbî fandhur ilâl ghommi yanjâl
ﻳﺎﺭﺏ ﻳﺎﺧﻴﺮ ﮔﺎﻓﯽ ﺍﺣﻠﻞ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺍﻟﻌﻮﺍﻓﯽ
Yâ robbi yâ khoiro kâfî uhlul ‘alaynal ‘awâfî
ﻓﻠﻴﺲ ﺷﻲﺀ ﺛﻢ ﺧﺎﻓﯽ ﻋﻠﻴﻚ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﻭﺍﺟﻤﺎﻝ
Falaisa syai, tsamma khôfî ‘alaika tafshîl
wajmâl
Tampilkan postingan dengan label Tabarrukan MR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabarrukan MR. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Oktober 2014
Teks Qasidah Yâ ‘âlimas-sirri minnâ
Nasehat Hati Sang Sulthonul Qulub Habib Munzir Al Musawa.
Habibana berkata :
Saudaraku yang ku muliakan,
Hidup kita bahagia, tenang dan damai dengan
tuntunan Sayyidina Muhammad SAW .
Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al
Bukhari, Rasul SAW bersabda :
“ Barangsiapa yang tidak mengasihani, maka ia
tidak dikasihani “
Jadi semakin kita bengis kepada orang lain, hati-
hati takdir Allah semakin bengis kepada kita.
Maka
semakin kita berlemah lembut kepada orang lain,
Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang makin
berlemah lembut kepada kita.
Maka berlemah lembutlah kepada orang lain
semampunya , dan berusahalah jika orang-orang
berbuat jahat kepada kita doakan agar dia diberi
hidayah, karena banyak dari teman dan saudara
kita itu berbuat kemungkaran karena dijebak oleh
syaitan, hatinya tidak mau, hatinya ingin baik,
mungkin ia melihat kalian hadir ke majelis hatinya
terpanggil walaupun dia sedang dalam keadaan
mungkar dan dosa , (si pendosa berkata dalam
hatinya) “aku ingin seperti dia hadir ke majelis”
namun dikalahkan oleh kekuatan syetan,,”ah nanti
saja lain waktu”, nah hal seperti ini yang perlu
dikasihani, hidayah ada di hatinya tapi ia
dikalahkan oleh kekuatan syetan maka perlu
dikasihani, diseru dengan kelembutan dan diajak
kepada keluhuran.
Warisi perjuangan Nabi kita Muhammad SAW
dalam hari-hari kita, bukan berarti harus menjadi
Da’i semua namun jadilah penyeru ke jalan
keluhuran di rumah, di tetangga, di pekerjaan, di
sekolahan, kenalkan budi pekerti yang baik pada
ayah bunda,
“kenapa ayah ibu saya selalu kasar pada saya?”
Kalau kau berlemah lembut pada mereka sekali,dua
kali, tiga kali, seminggu dua minggu, belum satu
bulan engkau berlemah lembut pada ayah ibu mu,
kau akan menjadi orang kesayangannya, dan kau
tidak akan disakiti perasaanmu karena kau menjadi
anak yang di banggakan, kenapa ? karena sangat
berlemah lembut pada Ayah Bunda nya.
Hampir semua orang yang bengis kepada orang
lain, kalau ia di lemah lembut maka ia akan
berubah menjadi baik, kenapa? Karena, pedang
akhlak dan budi pekerti itu adalah pedang cahaya,
kalau pedang besi hanya bisa merobek dada atau
jantung, membunuh…, paling banyaknya tidak bisa
lebih dari itu,
tapi pedang cahaya itu bisa menembus sanubari ,
merubah hati yang keras menjadi hati yang lembut
penuh cahaya, membuat orang yang bengis menjadi
orang yang sangat sering menangis, membuat
orang yang selalu berbuat jahat menjadi orang
yang selalu berbuat baik, membuat musuh terjahat
menjadi teman tersetia, itulah pedang cahaya
akhlak Sayyidina Muhammad SAW .
Demikian banyak saya tidak bisa sebutkan satu
persatu, riwayat Shahih Bukhari dan lainnya ; orang
yang berkata kepada Nabi Muhammad SAW tidak
ada orang yang lebih kubenci dari Muhammad
SAW, tapi setelah keramahan beliau berubah
menjadi orang yang paling dicintainya adalah
Sayyidina Muhammad SAW .
Demikian nasehat dari Sulthonul Qulub Habib
Munzir Al Musawa.
Selasa, 23 September 2014
HUJAN RINDU YANG TAK TERBENDUNG LAGI (Kisah Cinta dan Rindu Bilal bin Rabah)
Langit Madinah kala itu mendung…Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam.
Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.
Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.
Asy…hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..
Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.
Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputukalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.
Asy…ha..du. .annna…
Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.
Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.
Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah SAW berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah AW menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, “Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya.” Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.
Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, “Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.
Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, “Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena udah diingatkan akan waktu shalat.
Bilal teringat, saat shalat ‘Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah SAW. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab ra., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.
Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad SAW, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.
Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. “Hanya sekali”, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Rosululloh, umat yang dipanggil Rosululloh saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Rosululloh, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Rosululloh?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h
Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.
Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alash-shalah
Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.
Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah
Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?
La ilaha illallah
Tiada tuhan selain ALLAH.
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
“Jangan menangis,” katanya kepada istri. “Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.” Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, Pria yang suara dan kumandang adzannya membuat para malaikat sujud dan membuat arasy berguncang kini berada dalam kebahagiaan yang amat sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia….
yaaaa Allah sampaikan iman dan rasa cinta bilal di dalam hati kami…
sampaikan..
sampaikan wahai Allah…
Senin, 22 September 2014
Kisah Warisan KAOS KAKI SOBEK
Al-Kisah seorang kaya raya sedang sakit parah, menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya.
Beliau berwasiat:
Anak-anaku,
Jika ayah sudah dipanggil Allah Yang Maha Kuasa,
ada permintaan ayah kepada kalian,
tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan ayah,
walaupun kaos kaki itu sudah robek,
ayah ingin pake barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipake bila ayah dikubur nanti.
Singkat cerita Akhirnya sang Ayah meninggal dunia.
Saat mengurus Jenazah dan saat mengkafani, anak2nya minta ke pak modin untuk memakaikan kaus kaki yg robek itu sesuai wasiat ayahnya.
Akan tetapi pak modin menolaknya:
"Maaf secara syariat hanya kain putih kafan saja yang diperbolehkan dipakaikan kepada mayat".
Terjadi diskusi panas antara anak² yg ingin memakaikan kaos kaki robek dan pak modin yg juga ustad yg melarangnya.
Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris.
Beliau menyampaikan:
"Sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat,
ayo kita buka ber-sama2 siapa tahu ada petunjuk.
Maka dibukalah surat wasiat alm si Kaya untuk anak²nya yg di titipkan kepada Notaris tersebut.
Ini bunyinya:
Anak-anaku pasti sekarang kalian sedang bingung,
karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah,
Lihatlah anak²ku padahal harta ayah berbilang milyaran,
uang banyak, beberapa mobil mewah, tanah rumah dibeberapa tempat!
Tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati.
Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati.
Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yg ikhlas.
Anak2ku inilah yg ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dg dunia yg sementara.
Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah Swt.
Semoga bermanfaat :)
Sumber : FP Persatuan Pemuda Pemudi Majelis Rasulullah
KISAH RASULULLAH SAW DAN MALAIKAT PENGHITUNG TETESAN AIR HUJAN
Diriwayatkan bahwa Rasulullah sollallahu’alayhi wasallam bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.
Aku bertanya kepada Jibril as,pendampingku: ‘Siapa gerangan malaikat itu,dan apa tugasnya?.’ Jibril berkata, Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi. ’Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi, ‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.’
Malaikat itupun berkata, ‘Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampaisekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.’
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.
Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau,
‘Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.
’ Rasulallah saw pun bertanya,
‘Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.
’ Malaikat itupun menjawab,
‘KEKURANGAN DAN KELEMAHANKU, WAHAI RASULALLAH, JIKA UMATMU BERKUMPUL DI SATU TEMPAT, MEREKA MENYEBUT NAMAMU LALU BERSHALAWAT ATASMU, PADA SAAT ITU AKU TIDAK BISA MENGHITUNG BERAPA BANYAKNYA PAHALA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA MEREKA ATAS SHALAWAT YANG MEREKA UCAPKAN ATAS DIRIMU..
—-
“Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim.
(Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5: 355, hadis ke72)
Tiada yang Lebih Beruntung dari Para Pecinta Sayyidina Muhammad Saw
Rasulullah Shollallahu ’alayhi wasallam itu,, kalau mau,, berdoa untuk kecelakan kafir Quraisy,, sekali beliau mengangkat tangannya maka akan terpendam seluruh kafir Quraisy kedalam bumi dalam sekejap. (MASYA ALLAH) Nabiyullah Nuh Alaihissalam telah berdoa sebagaimana dalam firman Allah:
” Nuh berkata: “Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS. Nuh: 26 )
Maka Allah menjawab doa itu, Allah turunkan hujan sebanyak-banyaknya dan memerintahkan bumi untuk memuntahkan air sebanyak-banyaknya, dan tidak satu pun daratan yang tersisa di muka bumi, kecuali perahu nabiyullah Nuh Alaihissalam.Saudaraku yang dimuliakan Allah…
Nabi Muhammad rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Pemimpin para Nabi dan Rasul,, tetapi ketika beliau dilempari kotoran onta beliau hanya diam saja dan tidak bergeming dari sujudnya, sampai putrinya sayyidah Fathimah Az Zahra’ berlari menangis dan berkata: “wahai para tetangga, janganlah kalian berlaku demikian, tidaklah sepantasnya kalian melempari punggung ayahku dengan kotoran onta di saat beliau bersusujud di depan ka’bah”, maka ketika itu Rasulullah bangkit dan menenangkan putrinya dan berkata:
“wahai putriku tenanglah,, akan datang suatu waktu dimana ajaran ayahmu masuk ke semua rumah penduduk dunia ini, di barat dan timur”, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu kelompok yang dinaungi oleh Allah disaat tidak ada naungan kecuali naungan ALLAH adalah orang yang ketika mengingat Allah mengalirlah air matanya.
Orang yang ketika mengingat dan menyebut nama Allah,, merasa risau Allah akan menjauhinya,
merasa risau Allah akan memutus cintanya,
merasa risau Allah akan kecewa kepadanya,
merasa risau jika Allah tidak ingin dekat dengannya, merasa risau tidak dicintai Allah,
ia selalu berharap diampuni oleh Allah,
berharap dicintai Allah, berharap dipermudah oleh Allah,
berharap diperindah oleh Allah, berharap dipersuci oleh Allah,
diperluhur oleh Allah, dimuliakan oleh Allah,
selalu penuh harapan dan kerisauan,,
harapan untuk selalu dekat dengan Allah dan risau akan jauh dari Allah,
harapan untuk dicintai dan diridhai oleh Allah dan risau akan dimurkaiNya,
jiwa yang seperti inilah yang merupakan jiwa yang agung di sisi Allah, dimuliakan Allah.Sungguh Allah tidak memandang terhadap bentuk kita, tetapi memandang sanubari kita. Maka jadikan sanubari aku dan kalian sebagai berlian Ilahi, yang berpijar dengan cahaya ALLAH, dan kita tidak akan bisa mencapainya kecuali dengan tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,,
kecuali dengan Cinta kepada SAYYIDINA MUHAMMAD shollallahu’alayhi wasallam…
CINTA ALLAH berpijar pada gerak gerik, tuntunan dan kalimat Sayyidina Muhammad shollallahu’alayhi wa sallam…
maka beruntunglah… dan tiada yang lebih beruntung dari Para pecinta Sayyidina Muhammad shollallahu ‘alayhhi wa sallam…
www.majelisrasulullah.org
Pemuda yang Dicintai Rasulullah Saw
Pernah satu kali Sayyidina Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah Saw dalam satu peperangan,, tatkala beliau sedang didalam barisan beliau menengok ke sebelah kanan didapati semua banyak anak–anak muda, beliau menengok ke sebelah kiri rata–rata yang ada anak–anak muda.
Maka tiba – tiba sedang asyiknya sudah siap menghadapi musuh, tiba – tiba ada sikutan dari samping kanannya Sayyidina Abdurrahman bin Auf, ada yang nyolek Sayyidina Abdurrahman bin Auf maka Sayyidina Abdurrahman bin Auf menoleh ke sebelah kanannya.
Ini ada anak kecil belum begitu besar, umurnya belasan tahun,
“apa yang kau mau, apa yang kau inginkan wahai anak muda?”
anak itu berkata
“wahai Abdurrahman tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?”
ini anak muda ikut perang mau mencari mana yang namanya Abu Jahal.
“untuk apa kau mencari Abu Jahal”, kata Sayyidina Abdurrahman bin Auf.
Anak itu menjawab “telah sampai kepadaku kabar bahwasanya Abu Jahal itu yang selalu menyakiti Rasulullah Saw. Waktu di kota Makkah, belum hijrah ke Madinah sampai kabar kepadaku bahwasanya Abu Jahal ini orang yang selalu menyakiti Rasulullah saw, orang yang selalu mengganggu Rasulullah saw, maka tolong kau beritahu padaku ya Abdurrahman mana itu Abu Jahal, aku ingin membunuhnya?”.
Belum selesai anak ini berbicara ada colekan lagi dari sebelah kiri
“ada apa ini?”
Sayyidina Abdurrahman menoleh anak muda juga, pertanyaannya sama dengan yang sebelah kanan. Sayyidina Abdurrahman bin Auf berkata
“untuk apa kau mencari – cari Abu Jahal”,
berkata sang anak “telah sampai kepadaku bahwasanya Abu Jahal ini adalah musuh Allah yang banyak menggoda dan mengganggu Rasulullah Saw di Makkah”.
Maka Sayyidina Abdurrahman bin Auf melihat semangat dari si anak muda ini, tidak lama kemudian Sayyidina Abdurrahman bin Auf melihat itu yang namanya Abu Jahal dikelilingi oleh para musuh – musuh yang lain. Panah disebelah kirinya dan disebelah kanannya Abu Jahal, maka tatkala Sayyidina Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada yang di sebelah kanannya “hai anak muda itulah yang namanya Abu Jahal”.
Belum sempat memberi saran, memberi petunjuk “hai hati – hati Abu Jahal orang jahat”,
belum sempat mengatakan itu langsung anak muda itu tanpa tawar – menawar langsung terjun dihadapinya itu Abu Jahal, ia lemparkan tombaknya ke dada Abu Jahal.
Si anak sebelah kiri bertanya “mana itu Abu Jahal?” Sayyidina Abdurrahman berkata “itu”.
Langsung si anak terjun menghadapi Abu Jahal, ia senang ingin membunuh Abu Jahal karena kebenciannya kepada Abu Jahal karena Abu Jahal sering menyakiti Rasulullah Saw.
Kaum pemuda dimasa Nabi Muhammad Saw, mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Nabi Muhammad Saw. Mereka para pemuda – pemuda yang sangat dicintai oleh Rasulullah Saw., Allahumma sholli wasallim wabaarik ‘alayh
sumber: Majelis Rasulullah saw
Sesuatu yang memiliki Hubungan Dengan Orang Soleh ada Nilainya Dimata Allah Swt
Kisah Dari Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz:
--Sesuatu yang memiliki Hubungan Dengan Orang Soleh ada Nilainya Dimata Allah--
Suatu cerita tentang seseorang yang tinggal pada jaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani. Orang tersebut terdengar berteriakan setelah ia dikubur. Orang-orang mendengarnya berteriak dari siksaan kubur dan mereka dapat mendengarnya dari jauh. Para sahabat Syeikh Abdul Qadir Jaelani bercerita kepada beliau, sehingga beliau lalu pergi menuju kubur tersebut. Orang-orang meminta kepada beliau agar dapat mendoakannya sehingga Allah mengangkat hukumannya.
Syeikh Abdul Qadir Jaelani bertanya kepada mereka,
“Apakah ia adalah salah satu sahabat kita?”
Mereka menjawab tidak. Beliau bertanya lagi,
“Pernahkah kalian melihatnya hadir pada salah satu majlis kita?”
Mereka menjawab tidak. Beliau bertanya lagi,
“Pernahkah ia masuk ke salah satu masjid kita dengan tujuan untuk mendengarkan ceramah-ceramah kita atau sembahyang bersama kita?”
Mereka menjawab tidak. Beliau bertanya lagi,
“Pernahkah kita melihatnya?”
Mereka menjawab tidak. Beliau bertanya lagi,
“Apakah ia pernah melihat kita?”
Mereka menjawab tidak. Lalu salah seorang dari mereka berkata,
“Tetapi, wahai guru, saya pernah sekali melihatnya berjalan di suatu jalan setelah engkau dan para sahabatmu baru saja selesai dari majlis dan ia melihat jejak jalanmu.”
Lalu Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menengadah kepada Allah dan berkata,
“Ya Allah, orang ini adalah orang yang pernah melihat debu jejak jalan kami setelah kami selesai majlis. Jika Engkau mencintai kami Ya Allah, kami memohon kepadaMu berkat kecintaanMu itu untuk mengangkat hukuman dan siksaan pada hamba ini.”
Pada saat itu juga, teriakan (dari kubur) itu berhenti.
سُبْحَانَ اللَّهِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ ۈسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُـــحَـمَّــدْ وَ عَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُـــحَـمَّــد
..ْ
Sobat fillah mari kita ikut membagikan/tandai/ikuti majelis-majelis ilmu atau artikel da'wah semacam ini dengan niat menyambung tali da'wah Rasulullah saw,
Habib munzir berkata bahwa: berda'wah di akhir zaman (sa'at ini) pahalanya sangat tinggi dan kelak akan dimasukan oleh Allah swt kedalam satu golongan khusus ya'itu golongan penyambung lidah da'wah Rasulullah saw...
Sabtu, 20 September 2014
Pecinta Maulid
Seiring dengan mahabbah yang menggelora, mengalirlah tulisan tulisan berisi pujian dan sanjungan atas baginda Rasulullah saw lewat pena para ulama, pewaris beliau, yang termasyhur dengan sebutan “Kitab Maulid” atau “Risalah Maulid”
Kini bulan Maulid, Rabi’ul Awwal, segera tiba. Semarak peringatan suka cita kelahiran seorang putra Mekkah yang mengguncang singgasana penguasa Roma dan memadamkan api sesembahan penguasa Persia akan menggetarkan sanubari para pencinta.
Namanya “Muhammad” atau “Ahmad”, tak akan pernah habis untuk disebut dalam pujian dan sanjungan. Berapa miliar lembaran kertas memuat sejarah kehidupannya yang dicatat oleh sungai sungai tinta yang seakan tidak ada habisnya.
Seiring dengan mahabbah yang menggelora dalam sanubari , lahirlah tulisan tulisan pujian dan sanjungan atas Baginda Rasulullah saw lewat pena para ulama, pewaris beliau, yang termasyhur dengan “Kitab Maulid” atau “Risalah Maulid”.
Tujuan mereka semata mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah saw untuk generasi yang akan datang, agar beliau terus dikenal, dicintai dan diteladani oleh umatnya. Karenanya, karya mereka itu diterima dan diberkahi Allah. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah, ia kekal dihati masyarakat.
Menurut Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya Hawl al-Ihtifal bi Dzikr al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif, saking banyaknya ulama yang menulis kitab Maulid itu, sulit untuk memerincinya. Dan tidak bisa dikatakan ulama yang satu lebih utama dari pada yang lainnya. Pada intinya, kitab kitab tersebut terlahir dari kecintaan yang mendalam dan penuh keikhlasan para penulisnya.
Diantara kitab kitab itu adalah :
Al-‘Arus, karya Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Ibnul Jauzi,
at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir, karya Al-Muhaddits al-Musnid al-Hafidz Abu Al-Khaththab Umar bin Ali bin Muhammad Ibn Dahyah al-Kalbi,
Urf at-Ta’rif bi al-Maulid Asy-Syarif, karya al-Imam Syaikh al-Qurra’ wa Imam al-Qiraat al-Hafidz al-Muhaddits al-Musnid al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Al-Juzuri asy-Syafi’i,
Al-Maurid al-Hana, karya Al-Hafidz al-‘Iraqi,
Jami’ al-Atsar fi Maulid an-Nabiy al-Mukhtar, Al-Lafzh ar-Raiq fi Maulid Khair al-Khalaiq, dan Maurid ash-Shadiy fi Maulid al-Hadi, ketiganya karya Al-Imam al-Muhaddits al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakr bin Abdillah al-Qisi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i.
Disamping itu, juga ada kitab Al-Fakhr al-‘Alawi fi al-Maulid an-Nabawi, karya al-Hafidz as-Sakhawi,
Al-Mawarid al-Haniyyah fi Maulid Khair al-Bariyyah, karya Al-Allamah al-Faqih as-Sayyid Ali Zainal Abidin as-Samhudi al-Hasani,
Maulid Ad-Diba’iy, karya Al-Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi asy-Syafi’i, yang terkenal dengan sebutan “Ibn Diba’iy”,
Itmam an-Ni’mah ‘Ala al-‘Alam bi Maulid Sayyidi Waladi Adam, karya al-‘Allamah al-Faqih al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami,
Al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, karya al-‘Allamah al-Muhaddits al-Musnid al-Faqih asy-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al-Harawi,
‘Iqd al-Jauhar fi Maulid an-Nabiy al-Azhar, karya al-‘Allamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Abdul Karim al-Barzanji, yang karenanya termasyhur dengan sebutan Maulid Al-Barzanji.
Kemudian ada juga karya lain, berjudul Al-Yumn wa al-Is’ad bi Maulid Khair al-‘Ibad, karya Al-Imam al-‘Arifbillah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid asy-Syarif Muhammad bin Ja’far al-Kattani al-Hasani,
Jawahir an-Nazhm al-Badi’ fi Maulid asy-Syafi’, karya al-‘Allamah al-Muhaqqiq asy-Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani,
Ini baru sebahagian yang termaktub. Masih banyak lagi yang ditulis dimasa lalu hingga belakangan, yang lahir dari percikan iman dan kecintaan kepada imam penghulu kebahagiaan dunia dan akhirat, pembawa syafa’at di hari akhirat, Sayyidul Mushthafa Muhammad Shollallahu ‘alayhi wasallam.
Telah terbit purnama ditengah kita
Maka tenggelam semua purnama
Seperti kecantikanmu tak pernah kupandang
Duhai wajah nan ceria
Dari petikan sya’ir qashidah mahallul qiyam dalam Maulid al-Barzanji diatas, jelaslah bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw adalah penerang bagi gelapnya dunia. Maka, mari kita sambut bulan kelahiran Nabi dengan suka cita, Shollu ‘alan-Nabii …
***
sumber: Majalah alKisah
kisah Al Habib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi di Hadramaut
HUJAN
Dulu Tatkala Al Habib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi berkunjung ke Negeri Hadramaut men Ziarahi Para Ulama baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat dalam kunjungannya di temani oleh sang putra yaitu AlHabib Muhammad AlHabsyi
Diantara kunjungannya beliau menyempatkan menghadiri Majlisnya AlHabib Alwi bin Abdulloh bin Sahab di kota Tarim,melihat kedatangan AlHabib Ali AlHabsyi dari Kwitang Habib Alwi bin Sahab langsung menyambutnya dengan penuh kehormatan dan menempatkan Alhabib Ali duduk di bagian depan berdampingan dengan beliau
Berkata itu waktu AlHabib Alwi di hadapan jamaah nya yang hadir di Majlisnya
" Sekalian Hadirin kita telah kedatangan seorang Alim Ulama dari Jawa dari Bandar Betawi yang namanya sudah tidak asing lagi di ini negri yaitu AlHabib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi kwitang
Atas kehadiran beliau di Majlis ini kami meminta kepada AlHabib Ali untuk bermohon kepada Alloh agar bisa menurunkan Air Hujan di kita punya negri
Karna sudah cukup lama tidak turun hujan yang menimbulkan kekeringan di mana mana dan kita minta kepada tetamu kita AlHabib Ali untuk ber Doa memohon kepada Alloh atas niyat tersebut "
Habib Ali sempat menolaknya karna beliau datang adalah mengambil Barokah dan mengharap Doa,tapi karna di paksa yang pada akhirnya AlHabib Ali memanjatkan Doa kepada Alloh Taala
Selesai memanjatkan Doa oleh Habib Ali Majlis di lanjutkan kembali oleh Habib Alwi bin Sahab namun melihat cuaca yang mulai mendung Habib Alwi berkata pada yang Hadir
" sepertinya Majlis di cukupkan saja karna sebentar lagi akan turun hujan ........ "
Sesaat setelah bubar Majlis Hujan turun dengan lebatnya dan Habib Ali bermalam di Rumah Habib Alwi karna Hujan yang deras dan tidak kunjung reda dan itu hampir satu hari punya lama yang pada akhirnya beberapa Jamaah yang mewakili penduduk Negri Tarim meminta kepada AlHabib Alwi bin Abdulloh bin Sahab agar kiranya dapat meminta kepada AlHabib Ali kwitang bermohon kepda Alloh agar hujan yang begitu lebat di alihkan di Wadi atau di sungai sungai saja
Yang pada akhirnya Habib Alwi meminta lagi kepada Habib Ali
" Ya Hababana Ali ......... mohon kepada Alloh agar hujan ini di turunkan di sekitar kota saja yang tidak ada rumah rumahnya,karna kalau tidak rumah rumah kami ini terbuat dari tanah kalau hujan terus deras bisa bisa banyak rumah yang hancur
Ya Habib Ali mohon lagi Kepada Alloh dengan hal yang demikian "
Mendengar perkataan Habib Alwi Bin Sahab langsung Habib Ali menengadahkan tangannya tinggi tinggi seraya ber Doa kepada Alloh dan selsai Doa Habib Ali Hujan ber Angsur angsur menjauh dan tergeser sampai tidak menetes di rumah rumah Masyarakat negri Tarim
Melihat hal demikian Habib Abdulloh memeluk Habib Ali seraya berkata
" Ya Habib Antum Mujabatud Da'wah .......... beruntung sekali negri yang kau ada di dalamnya "
ROBBI FAN FA'NA BIBARKATIHIM
WAHDINAL HUSNA BI HURMATIHIM
WA AMITNA FII THORIQOTIHIM
WA MUA FATIM MINAL FITANI
demikian sekelumit kisah yang kami dengar langsung dari AlHabib Muhammad bin Ali AlHabsyi dalam kunjungannya bersama sang ayah pada waktu itu Rihlah di negri Hadramaut.
KALIMAT YANG PALING DICINTAI OLEH ALLAH SWT
HABIBANA MUNZIR BIN FUAD ALMUSAWA ALLAHYARHAM berkata:
“Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkan pujian, namun Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui bahwa jika seorang hamba memujiNya maka pujian itu muncul dari kecintaan,
Jika bukan karena cinta maka tidak akan muncul pujian, maka apabila seseorang memuji Allah berarti ia mencintai Allah dan jika ia mencintai Allah sungguh agung balasan dari Allah subhanahu wata’ala,
Sehingga ucapan yang sangat pendek seperti ucapan SUBHANALLAH WABIHAMDIHI jika dibaca sebanyak 100 kali maka akan dihapus dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wata’ala meskipun sebanyak buih di lautan.
Dan diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa kalimat yang paling dicintai oleh Allah adalah kalimat : SUBHANALLAH WABIHAMDIHI.
Maka tidak inginkah bibir kita ini terhiasi dengan kalimat yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala?!,
Karena kelak di hari kiamat sungguh beruntung hamba-hamba yang bibirnya bercahaya bukan karena pewarna bibir namun karena cahaya cinta Allah subhanahu wata’ala yaitu dengan bacaan kalimat : SUBHANALLAH WABIHAMDIHI”.
Tausiyah Guru Mulia al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Syekh Abu Bakar bin Salim ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ di Majlis Haul Syekh Abu Bakar bin Salim di Cidodol Kebayoran Lama
--------------------------------
puji dan syukur kepada Allah Ta’ala, kita
pada saat ini, saya dan kalian berkumpul
dihadapan Allah Ta’ala. Kita menanti dipintu
Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha
Dermawan. Semuanya ini disebutkan dalam
dakwahnya Nabi Besar Muhammad saw, pemimpin sekalian
Rasul, dengan itulah berdiri tiang-tiang
kecintaan kepada Allah Ta’ala, kecintaan
kepada NabiNya, kecintaan kepada orang-
orang yang sholeh, para auliya` dan sholihin
dan kaum mukminin.
Dan segala macam kemuliaan yang diberikan Allah Ta’ala ini kepada kita saat ini,
ini adalah pemberian yang diberikan Allah Ta’ala
secara percuma tanpa didahului dengan uang muka dari kita sekalian.
Wahai orang-orang
yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala
dengan beragam kemuliaan di majlis ini, yang
mana saat ini kita mencari rahmat dan kurnia
Allah Ta’ala dan kita telah diberikan Allah
Ta’ala, maka perhatikanlah bahwa saat ini
Allah sedang menilik kita sekalian.
Dan Allah Ta’ala mengetahui apa yang ada di
dalam benak dan rahsia sanubari kita.
Dan
Allah Ta’ala mengetahui apa yang kita
sembunyikan di dalam hati kita. Bagi Allah
sama saja apa yang nampak kita zahirkan
ataupun kita sembunyikan, semuanya sama
bagi Allah Ta’ala.
Apabila kalian mencari
keredhaan dari Allah Ta’ala dan bersungguh-
sungguh dalam mencarinya, maka Allah
Ta’ala akan melimpahkan keredhaanNya
kepada kalian. Dan orang yang suka maksiat,
insya Allah dapat meraih keberkahan dari
berkah orang-orang yang taat pula.
Apabila kita merayakan, bergembira dengan
haulnya Syekh Abu Bakar bin Salim rdh ini, sesungguhnya kita bergembira
dengan kurnia yang diberikan Allah Ta’ala.
Dan kita merayakan bergembira dengan
rahmat yang diberikan Allah Ta’ala. Dan kita
merayakan nikmat yang dikurniakan Allah
Ta’ala. Dan kita bergembira dengan jasa
yang Allah Ta’ala berikan kepada kita
sekalian. Dan kita merayakan warisan dari
Nabi Muhammad saw.
Dan seseorang yang merayakan seorang
pewaris, maka dia pun merayakan orang
yang mewariskannya, yaitu Nabi Muhammad saw.
Dan kita
merayakan cahaya-cahaya iman dan yakin.
Dan kita merayakan sifat-sifat yang mulia
disisi Allah Ta’ala.
Apabila kita saat ini berkumpul merayakan
hal-hal yang mulia tersebut, orang-orang
yang mulia yang dekat dengan Allah, maka
sungguh tidak diragukan, bahwasanya Allah
pun akan mendekatkan kita kepadaNya (yakni
rahmatNya).
Kurnia Allah kepada Orang Yang Menghadiri
Majlis-majlis Dhikir (seperti majlis ILMU,
majlis HAUL, MAWLID dan seumpamanya)
Berapa besar kurnia Allah Ta’ala untuk umat
ini, berapa banyak orang yang masuk ke
dalam majlis ini, dalam keadaan tadinya dia
jauh dari Allah, dia keluar dari majlis ini
dalam keadaan sudah dekat dengan Allah.
Bahkan berapa orang yang masuk kedalam
majlis ini, tadinya dia dicatat sebagai orang
yang celaka, dia keluar dari majlis ini
sebagai orang yang beruntung.
Dan berapa banyak orang yang hadir dalam
majlis ini tadinya hatinya penuh dengan
kekotoran, keluar dengan membawa hati yang
bersih bercahaya. Berapa banyak orang yang
hadir dalam majlis ini, hatinya gelap gulita,
dia keluar dengan membawa hati yang terang
benderang. Berapa banyak orang yang masuk
dalam majlis ini dalam keadaan Allah Ta’ala
tidak suka, berpaling dengan orang tersebut,
tetapi tidaklah dia keluar dari majlis ini
melainkan Allah Ta’ala mencintai orang
tersebut.
Wahai orang-orang yang mencari kebaikan
yang saya sebutkan ini, bersungguh-
sungguhlah dalam pencarianmu. Dan
kembalilah kepada Allah Ta’ala. Dan
merendahlah, tunduklah kepada keagungan
Allah Ta’ala. Dan agungkan Allah Ta’ala. Dan
tetap tidak ada yang lebih agung dari Allah
Ta’ala. Dan tidak ada yang lebih besar dari
Allah Ta’ala. Dan tidak ada yang lebih
dermawan dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala yang telah mengangkat darjat
Nabi Muhammad saw.
Allah Ta’ala yang
mengangkat darjat para anbiya, mengangkat
darjat para malaikat dan para auliya` serta
kaum sholihin.
Mereka adalah orang-orang
yang sangat tinggi disisi Allah.
Dan orang-
orang yang mencari selain ketinggian selain
dari yang mendekatkan kepada Allah maka
mereka itulah orang-orang yang jatuh dan
terjerumus. Bumi telah menjadi saksi ke atas
generasi manusia, generasi umat dan
golongan yang mana mereka mencari
kemuliaan selain dari Allah,
maka mereka
pun hina dan terjelepuk dijatuhkan oleh Allah Ta’ala.
Semoga hadirnya diri kita di majelis mulia semacam ini menjadikan Allah redho kepada kita sekalian amiin ya rabbal alamiin.
Kamis, 18 September 2014
Alâ yâ Allâh binadhroh
ﺍﻻ ﻳﺎﺍﻟﻠﻪ ﺑﻨﻈﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻤﺔ
Alâ yâ Allâh binadhroh minal ‘ainir-rohîmah
Ya Allah ! limpahkanlah karunia rahmat-Mu
ﺗﺪﺍﻭﯼ ﮐﻞ ﻣﺎﺑﯽ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﺍﺽ ﺳﻘﻴﻤﺔ
Tudâwî kulla mâbî min amrôdlin saqîmah
Yang dapat menyembuhkan semua penyakit-
penyakit yang ada padaku
ﺃﻻ ﻳﺎ ﺻﺎﺡ ﻳﺎ ﺻﺎﺡ ﻻ ﺗﺠﺰﻉ ﻭ ﺗﻀﺠﺮ
Alâ yâ shôh yâ shôh lâ tajza’ wa tadljar
Wahai kawanku! Wahai kawanku! Janganlah engkau
gelisah dan jangan bosan
ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻠﻤﻘﺎﺩﻳﺮ ﮔﻲ ﺗﺤﻤﺪ ﻭﺗﺆﺟﺮ
Wa sallim lil maqôdîr kay tuhmad wa tu,jar
Serahkanlah pada takdir agar engkau dipuji dan
diberi pahala
ﻭﮐﻦ ﺭﺍﺽ ﺑﻤﺎ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﻤﻮﻟﯽ ﻭﺩﺑﺮ
Wa kun rôdlin bimâ qoddarol maulâ wa dabbar
Dan jadilah hamba yang ridho atas apa yang telah
ditakdirkan Allah, dan diaturkanNya
ﻭﻻ ﺗﺴﺨﻂ ﻗﻀﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﻷﮐﺒﺮ
Wa lâ taskhoth qodlôllâh robbil ‘arsyil akbar
Dan janganlah engkau ingkar akan takdir Allah
Tuhan Arsy yang Maha Besar
ﻭ ﮐﻦ ﺻﺎﺑﺮ ﻭﺷﺎﮐﺮ
Wa kun shôbir wa syâkir
Jadilah engkau orang yang bersabar dan bersyukur
ﺗﮑﻦ ﻓﺎﺋﺰ ﻭﻇﺎﻓﺮ
Takun fâ-iz wa dhôfir
Maka engkau akan menjadi orang yang berjaya dan
menang
ﻭﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﺮﺍﺋﺮ
Wa min ahlis-sarô-ir
Dan menjadi kelompok orang orang ahli sir
(rahasia)
ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﮐﻞ ﺫﻱ ﻗﻠﺐ ﻣﻨﻮﺭ
Rijâlillâhi min kulli dzî qolbin munawwar
Yaitu hamba-hamba Allah yang memiliki hati yang
bercahaya
ﻣﺼﻔﻰ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺪﻧﺲ ﻃﻴﺐ ﻣﻄﻬﺮ
Mushoffâ min jamî’id-danasi thoyyibin
muthohharin
Yang bersih dari segala noda (kotoran hati), baik
dan suci
ﻭﺫﻩ ﺩﻧﻴﺎ ﺩﻧﻴﺔ ﺣﻮﺍﺩﺛﻬﺎ ﮔﺜﻴﺮﺓ
Wa dzih dunyâ daniyyah hawâditsuhâ katsîroh
Dunia ini hina, dan banyak kejadian-kejadiannya
ﻭﻋﻴﺸﺘﻬﺎ ﺣﻘﻴﺮﺓ ﻭﻣﺪﺗﻬﺎ ﻗﺼﻴﺮﺓ
Wa ‘îsyatuhâ haqîroh wa muddatuhâ qoshîroh
Dan kehidupan dunia itu hina, serta masa untuk
hidup itu singkat
ﻭﻻ ﻳﺤﺮﺹ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺳﻮﯼ ﺃﻋﻤﯽ ﺍﻟﺒﺼﻴﺮﺓ
Wa lâ yahrish ‘alaihâ siwâ a’mâl bashîroh
Dan tidak ada orang yang rakus akan dunia
melainkan orang yang buta hatinya
ﻋﺪﻳﻢ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻟﻮ ﮔﺎﻥ ﻳﻌﻘﻞ ﮔﺎﻥ ﺃﻓﮕﺮ
‘Adîmul ‘aqli lau kâna ya’qil kâna afkar
Yang tidak berakal, yang apabila ia benar-benar
berakal ia akan berfikir
ﺗﻔﮑﺮ ﻓﻲ ﻓﻨﺎﻫﺎ
Tafakkir fî fanâhâ
Berfikirlah akan dunia yang tidak kekal
ﻭ ﻓﯽ ﮔﺜﺮﺓ ﻋﻨﺎﻫﺎ
Wa fî katsroti ‘anâhâ
Dan penderitaannya (dunia) yang banyak.
ﻭﻓﯽ ﻗﻠﺔ ﻏﻨﺎﻫﺎ
Wa fî qillati ghinâhâ
Dan akan kekayaannya (dunia) yang sedikit
ﻓﻄﻮﺑﯽ ﺛﻢ ﻃﻮﺑﯽ ﻟﻤﻦ ﻣﻨﻬﺎ ﺗﺤﺬﺭ
Fathûbâ tsumma thûbâ liman minhâ
tahadzdzar
Maka beruntunglah dan sungguh beruntung bagi
siapa yang berhati-hati daripada dunia
ﻭ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﻭ ﻓﯽ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺷﻤﺮ
Wa thollaqohâ wa fî thô’atir-rohmâni syamar
Dan menceraikannya (dunia), dan bersiap-siap
menuju kepada ketaatan Allah
ﺃﻻ ﻳﺎ ﻋﻴﻦ ﺟﻮﺩﻱ ﺑﺪﻣﻊ ﻣﻨﻚ ﺳﺎﺋﻞ
Alâ yâ ‘ain jûdî bidam’in minki sâ-il
Wahai mata! Curahkanlah dari padamu air mata
yang mengalir
ﻋﻠﯽ ﺫﺍﻙ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪ ﮔﺎﻥ ﻧﺎﺯﻝ
‘Alâ dzâkal habîbilladzî qod kâna nâzil
Untuk seorang kekasih yang telah diutus (Nabi
Muhammad saw)
ﻣﻌﻨﺎ ﻓﯽ ﺍﻟﻤﺮﺍﺑﻊ ﻭﺃﺻﺒﺢ ﺳﻔﺮ ﺭﺍﺣﻞ
Ma’anâ fîl marôbi’ wa ashbaha safar rôhil
Ia bersama kami dan sekarang telah pergi
ﻭ ﺃﻣﺴﯽ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﺒﺎﻝ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﮕﺪﺭ
Wa amsâl qolbu wal bâlu min ba’dihi mukaddar
Maka hati ini setelah kepergiannya menjadi sedih
ﻭ ﻟﮑﻦ ﺣﺴﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ
Wa lâkin hasbiyallâh
Akan tetapi cukup bagiku, ALLAH
ﻭ ﮐﻞ ﺍﻷﻣﺮ ﻟﻠﻪ
Wa kullul amrillâh
Dan segala urusan akan kembali pada Allah
ﻭ ﻻ ﻳﺒﻘﯽ ﺳﻮﯼ ﺍﻟﻠﻪ
Wa lâ yabqô siwâllâh
Dan tiada yang kekal kecuali Allah
ﻋﻠﯽ ﺑﺸﺎﺭ ﺟﺎﺩﺕ ﺳﺤﺎﺋﺐ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﺒﺮ
‘Alâ basysyâri jâdat sahâ-ib rohmatil barr
Semoga Allah memberikan curahan rahmatnya
atas penghuni Bassyar (tiga tempat pengkuburan
para Auliya)
ﻭ ﺣﻴﺎﻫﻢ ﺑﺮﻭﺡ ﺍﻟﺮﺿﺎ ﺭﺑﻲ ﻭﺑﺸﺮ
Wa hayyâhum birouhir-ridlô robbî wa basysyar
Dan semoga Dia (Allah) mencurahkan
keridhoannya atas mereka serta memberi khabar
gembira
ﺑﻬﺎ ﺳﺎﺩﺍﺗﻨﺎ ﻭﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﺍﻟﻌﺎﺭﻓﻮﻧﺎ
Bihâ sâdâtunâ wasysyuyûkhul ‘ârifûnâ
Disana terdapat tuan-tuan dan guru-guru kami
yang ‘arif
ﻭ ﺃﻫﻠﻮﻧﺎ ﻭﺃﺣﺒﺎﺏ ﻗﻠﺒﯽ ﻧﺎﺯﻟﻮﻧﺎ
Wa ahlûnâ wa ahbâbi qolbî nâzilûnâ
keluarga kami dan orang-orang yang kami cintai
ﻭﻣﻦ ﻫﻢ ﻓﯽ ﺳﺮﺍﺋﺮ ﻓﺆﺍﺩﯼ ﻗﺎﻃﻨﻮﻧﺎ
Wa man hum fî sarô-iri fu-âdî qôthinûnâ
Dan mereka orang-orang yang berada dalam lubuk
hatiku
ﺑﺴﺎﺣﺔ ﺗﺮﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺫﮐﻲ ﺍﻟﻤﺴﻚ ﺃﻋﻄﺮ
Bisâhati turbihâ min dzakiyyil miski a’thor
Mereka berada di tempat yang debunya tercium
aroma bau kasturi
ﻣﻨﺎﺯﻝ ﺧﻴﺮ ﺳﺎﺩﺓ
Manâzilu khoiri sâdah
Tempat-tempat persinggahan bagi sebaik-baik
manusia
ﻟﮑﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺎﺩﺓ
Likullin-nâsi qôdah
Mereka pemimpin bagi umat manusia
ﻣﺤﺒﺘﻬﻢ ﺳﻌﺎﺩﺓ
Mahabbatahum sa’âdah
Dalam mencintai mereka terdapat kebahagiaan
ﺃﻻ ﻳﺎ ﺑﺨﺖ ﻣﻦ ﺯﺍﺭﻫﻢ ﺑﺎﻟﺼﺪﻕ ﻭﺍﻧﺪﺭ
Alâ yâ bakht man zârohum bishshidqi wandar
Sungguh beruntung bagi siapa yang menziarahi
mereka dengan tulus dan datang
ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻣﻌﺘﻨﻲ ﮐﻞ ﻣﻄﻠﻮﺑﻪ ﺗﻴﺴﺮ
Ilaihim mu’tanî kullu mathlûbihi tayassar
Kepada mereka dengan penuh perhatian maka
semua
permintaannya akan dipermudahkan
Langganan:
Postingan (Atom)