Selasa, 23 September 2014
HUJAN RINDU YANG TAK TERBENDUNG LAGI (Kisah Cinta dan Rindu Bilal bin Rabah)
Senin, 22 September 2014
Kisah Warisan KAOS KAKI SOBEK
KISAH RASULULLAH SAW DAN MALAIKAT PENGHITUNG TETESAN AIR HUJAN
Tiada yang Lebih Beruntung dari Para Pecinta Sayyidina Muhammad Saw
Pemuda yang Dicintai Rasulullah Saw
Sesuatu yang memiliki Hubungan Dengan Orang Soleh ada Nilainya Dimata Allah Swt
Minggu, 21 September 2014
Do’a Sayyidina Muhammad Saw dalam Perang Badar & Nama-Nama 313 Pejuang Ahlu Badr
Sabtu, 20 September 2014
Pecinta Maulid
kisah Al Habib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi di Hadramaut
KALIMAT YANG PALING DICINTAI OLEH ALLAH SWT
Tausiyah Guru Mulia al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ibn Syekh Abu Bakar bin Salim ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ di Majlis Haul Syekh Abu Bakar bin Salim di Cidodol Kebayoran Lama
Kamis, 18 September 2014
Alâ yâ Allâh binadhroh
Dialah sang Kekasih yang diharapkan Syafa’atnya, dari setiap huru-hara yang menimpa
Rasulullah saw pernah menuturkan sekelumit
“kisah masa depan” kepada para sahabat. Kelak
Allâh mengumpulkan seluruh manusia dari yang
pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan.
Pada hari itu matahari mendekat kepada
mereka dan manusia ditimpa kesusahan dan
penderitaan yang mereka tidak kuasa
menahannya.
Diantara mereka ada yang berkata, “Tidakkah
kalian lihat apa yang telah menimpa kita,
tidakkah kalian mencari orang yang bisa
memberikan syafaat kepada Rabb kalian?”
Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian
adalah Adam a.s”
Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata,
“Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allâh
menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan
meniupkan ruh kepadamu, dan menempatkanmu
di surga. Tidakkah engkau syafaati kami kepada
Rabb- mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang
menimpa kami?”
Maka Adam berkata, “Pada hari ini Rabb- ku
sedang marah dan Dia belum pernah dan tidak
akan pernah semarah ini. Dia telah melarangku
untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar.
Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah
kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh a.s”
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh as, dan
berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul
pertama yang diutus ke bumi, dan Allâh telah
memberikan nama kepadamu seorang hamba
yang bersyukur (‘abdân syakûrâ), tidakkah engkau
saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah
engkau lihat apa yang terjadi pada kami?
Tidakkah engkau beri kami syafaat menghadap
Rabb- mu?”
Maka Nuh berkata, “Pada hari ini Rabb- ku
sedang marah dan Dia belum pernah dan tidak
akan pernah marah semarah ini. Sesungguhnya
aku punya doa dan telah aku gunakan untuk
mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi,
pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim
as.!
Lalu mereka segera menemui Nabi Ibrahim dan
berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan
kekasih Allâh dari penduduk bumi, syafaatilah
kami kepada Rabb- mu! Tidakkah kau lihat apa
yang menimpa kami?
Maka Ibrahim berkata, “Pada hari ini Rabb- ku
sedang marah dan Dia belum pernah dan tidak
akan pernah marah semarah ini. Aku pernah
berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian
kepada selainku, pergilah kalian kepada Mûsâ as.!
Lalu mereka segera pergi ke Nabi Musa, dan
berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan
Allâh. Allâh telah memberikan kelebihan
kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas
sekalian manusia. Syafaatilah kami kepada Rabb-
mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
Lalu Musa berkata, “Pada hari ini Rabb- ku
sedang marah dan Dia belum pernah dan tidak
akan pernah marah semarah ini. Aku pernah
membunuh seorang tanpa hak. Nafsi nafsi,
pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian
kepada Isa a.s!”
Lalu mereka pergi menemui Nabi Isa, dan berkata,
“Wahai Isa, engkau adalah utusan Allâh dan
kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam,
serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara
kepada manusia semasa dalam gendongan.
Mohonkan syafaat bagi kami kepada Rabb- mu!
Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
Maka Nabi Isa berkata, “Pada hari ini Rabb- ku
sedang marah dan Dia belum pernah dan tidak
akan pernah marah semarah ini. Nafsi nafsi,
pergilah kepada selainku, pergilah kepada
Muhammad saw!”
Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad
saw, dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau
adalah utusan Allâh dan penutup para nabi. Allâh
telah mengampuni dosamu yang lalu maupun
yang akan datang. Syafaatilah kami kepada
Rabb- mu, tidakkah kau lihat apa yang kami
alami?”
Lalu Nabi saw pergi ke bawah ‘Arsy. Disana
beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allâh
membukakan kepadanya puji-pujian-Nya, dan
betapa indahnya pujian-Nya, sesuatu yang tidak
pernah dibukakan kepada seorang pun sebelum
Nabi Muhammad. Kemudian Allâh berkata kepada
Nabi Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat
kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan
berilah syafaat niscaya akan dikabulkan!”
Maka Nabi mengangkat kepala dan berkata,
“Umatku, wahai Rabb- ku. Umatku, wahai Rabb-
ku. Ummatku, wahai Rabb- ku!”
Lalu Allâh menyampaikan kepadanya, “Wahai
Muhammad, masukkan diantara umatmu yang
tanpa hisab ke surga dari pintu sebelah kanan
dari sekian pintu surga, mereka memiliki hak
bersama dengan manusia yang lain pada selain
pintu tersebut dari pintu pintu surga,” (H.R
Bukhari dan Muslim)
Betapa kita sangat membutuhkan Rasulullah saw
agar bisa menyelamatkan kita dari berbagai
kegelisahan yang terjadi pada hari kiamat..
***
Sumber: Karunia bershalawat ( Afdhal ash-
Shalawât ‘alâ as-Sayyid as-Sâdât ) karya Syaikh
Yusuf ibn Ismail al-Nabhani.
Rabu, 17 September 2014
Tawassul (Oleh Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa)
Memang banyak pemahaman saudara-saudara
kita muslimin yang perlu diluruskan tentang
tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah
dengan perantara amal shalih, orang shalih,
malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul
merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah
ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma
Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin,
dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar
Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau
dengan perantara, dan tak ada yang
menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau
bahkan memusyrikkan orang yang
mengamalkannya.
Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20
ini, dengan munculnya sekte sesat yang
memusyrikkan orang-orang yang bertawassul,
padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw,
sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai
Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu,
demi orang-orang yang bersemangat menuju
(keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini
kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar
dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat
membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena
Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam
Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem,
Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni,
Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits
ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh
muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.
Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini,
bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul
kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah,
lalu kepada orang-orang yang bersemangat
kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul
kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku
ini kepada keridhoan Mu).
Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang
ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh
ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum
matannya, betapa jenius dan briliannya mereka
ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka
tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits
pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai
hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits
diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits..,
apakah kiranya kita masih memilih pendapat
madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20
ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap
muhaddits padahal tak satupun dari mereka
mencapai kategori Muhaddits , dan kategori
ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka
bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-
orang yang beramal dengan landasan hadits
shahih.
Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil
tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana
hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim,
Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa
ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu
disebutkan Rasul saw rebah/bersandar
dikuburnya dan berdoa : Allah Yang
Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha
Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku
Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya
(pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya
kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi
sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih
dari semua pemilik sifat kasih sayang.”, jelas
sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw
bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang
telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw
(Istri Abu Thalib).
Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin
Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada
Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul
dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami
hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman
beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka
turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun.
(Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang
sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).
Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat
tak menentangnya, demikian pula para Imam-
Imam besar itu tak satupun mengharamkannya,
apalagi mengatakan musyrik bagi yang
mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat
ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul,
padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah
mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina
Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka
memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari
pemahaman sesat ini.
Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang
mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada
orang yang masih hidup, maka entah darimana
pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu,
dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah
mati tak akan dapat memberi manfaat lagi..,
pendapat yang jelas-jelas datang dari
pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran
yang sangat buta terhadap kesucian tauhid..
Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu
makhlukpun dapat memberi manfaat dan
mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu
mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa
memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu
dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka?
Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang
mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin
Allah.., yang hidup tak akan mampu berbuat
terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun
bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki
Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas
orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.
Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta
kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi
berperantara kepada keshalihan seseorang, atau
kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali
bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah,
yang telah memilih orang tersebut hingga ia
menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan
Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah,
karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka
kepada Allah tetap abadi walau mereka telah
wafat.
Contoh lebih mudah, anda ingin melamar
pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi
seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang
tetangga anda yang telah wafat adalah abdi
setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu
anda saat melamar pekerjaan atau mungkin
mengemis pada saudagar itu, anda berkata :
“Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran
saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga
dekat fulan, nah.. bukankah ini mengambil
manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana
dengan pandangan bodoh yang mengatakan
orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-
jelas saudagar akan sangat menghormati atau
menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi
anda uang lebih, karena anda menyebut nama
orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi
kecintaan si saudagar akan terus selama
saudagar itu masih hidup?, pun seandainya ia tak
memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan
lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan
Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha
Menyantuni?? dan tetangga anda yang telah
wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu
menahu tentang lamaran anda pada si saudagar,
Namun anda mendapat manfaat besar dari orang
yang telah wafat.
aduh…aduh… entah apa yang membuat pemikiran
mereka sempit hingga tak mampu mengambil
permisalan mudah seperti ini. Firman Allah :
“Mereka itu tuli, bisu dan buta dan tak mau
kembali pada kebenaran” (QS Albaqarah-18).
Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh
mereka tak mengetahui.
wallahu a’lam
Terompah (Sandal) Rosululloh SAW
Sulthonul Qulb Habibana Munzir Bin Fuad Al
Musawa Alaihi Rahmatulloh,pernah
menyampaikan:
Ketika Nabiyulloh Musa AS menghadap Alloh di
bukit Turisina,maka Alloh berfirman:
“Sungguh Aku (Alloh) adalah Tuhan'mu,maka
lepaskan kedua terompah'mu karena
sesungguh'nya engkau berada di lembah yang
suci“. (QS. Taha : 12).
Kita lihat bagaimana Firman Alloh yang
memerintah'kan Nabi Musa As untuk
melepas'kan kedua terompah'nya (sandal) pada
saat ingin menghadap Alloh SWT.
Berbeda pada saat Rosululloh SAW Isro mi’roj
menghadap Alloh SWT.
Setelah Baginda Rosul sampai di ‘arsy Ar
Rahman beliau tidak di perintah untuk melepas
sandal'nya,bukan berarti sandal'nya lebih mulia
dari seluruh makhluk...
(Jibril kok tidak bisa naik)
Tapi sandal Rosul SAW bisa sampai ke hadirat
Alloh ?
Hingga muncul satu syair:
“ Mana sih yang lebih mulia Malaikat Jibril atau
sandal Rosululloh SAW,kok sandal Rosululloh
SAW bisa sampai ke hadirat Alloh...?"
Tentu'nya (sangat lebih mulia) malaikat Jibril...
Sebab sandal hanya terbuat dari kulit kambing
yang tidak ada arti'nya,tapi masalah'nya di sini
adalah karena (sandal) tersebut terikat di kaki
Sayyidina Muhammad SAW…!
Ini adalah hukum taba’iyyah (yaitu
Bersamaan),tentu'nya pakaian Raosul SAW
yang di pakai beliau bukan berarti lebih mulia
dari semua makhluk,tapi hal itu di karenakan
hukum taba’iyyah yaitu terikat dengan Beliau
SAW.
Renungkan'lah wahai saudara-saudari'ku...
Kalau sandal yang terikat di kaki beliau bisa
sampai ke hadirat Alloh,terlebih lagi jiwa yang
cinta yang senantiasa terikat kepada Sayyidina
Muhammad SAW…!
Jiwa yang selalu merindu'kan beliau,jiwa yang
selalu mencintai dan selalu ingin bersama
beliau,jiwa yang meng'idolakan beliau lebih dari
makhluk yang lain...
Wahai saudara-saudari'ku...
Semoga dengan sebab terikat'nya jiwa kita
ber'idolakan Rosululloh SAW,kelak kita akan di
kumpul'kan oleh Alloh dengan Beliau...
Aamiin Allohumma Aamiin...
Shollu Alan Nabi Muhammad SAW...
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَِﻴّﺪِﻧَﺎﻣُﺤَﻢٍﺩَّ ﻭَ ﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳﻴّﺪﻧﺎﻣُﺤَﻤَّﺪ
Tidak ada yang lebih perduli terhadap para pendosa dari manusia melebihi Nabiyyuna Muhammad Saw. (Alm.Habib Munzir)
Assalaamu'alaikum wr wb,
Sobat fillah ingatkah antum sa'at habibana
munzir menagis ditengah tausikhnya,
Saya coba tuliskan untuk sekedar menyegarkan
ingatan kita dan untuk menambah kecinta'an
kita kepada panutan agung Rasulullah saw.
Bismillah ,,,
Habibana berkata
"Orang yang paling mencintai Allah, Nabiyyuna
Muhammad Saw.Rahmatan Lil Alamin,
Muhammad Rasulullah.
Orang yang paling
tidak tega melihat umatnya padahal beliau
paling benci dengan dosa.
Kalau diseluruh
dunia ini manusia benci dengan dosa, yang
paling benci dengan dosa adalah Nabi Muhammad Saw.
Paling benci dengan maksiat
tapi beliau juga yang paling perduli kepada para pendosa.
Tidak ada yang lebih perduli
terhadap para pendosa dari manusia melebihi
Nabiyyuna Muhammad Saw.
Nanti dipadang mahsyar sa'at seluruh manusia
dikumpulkan untuk menunggu vonis dari Allah swt,
manusia berada dalam penderita'an yang
sangat hebat,tidak ada perlindungan selain perlindungan Allah swt,
Ketika umatnya berdatangan kepada sang nabi
dan mereka
dihalau dari Sang Nabi Saw, seraya berkata
“kenapa mereka dihalau?”, “ya Rasulullah
mereka berubah ,
berbuat dosa setelah kau
wafat”. Maka Rasul saw berkata “biarkan
mereka pergi..,kemanapun mereka mau pergi,
silahkan!! Celaka orang yang berubah setelah
aku wafat”.
Maka umatnya mencari syafa’at kepada Nabi
Adam, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan semua
Nabi menolak,
sa'at itu Allah swt sedang marah yang tidak
pernah marah sepeti itu sebelumnya dikarnakan
banyaknya dosa yg manusia perbuat,
(---- disini habibana terlihat mulai
menangis----)
Lalu ummat manusia Kembali lagi kepada Nabi
Muhammad saw dan
beliau tidak tega. Tadi beliau sudah mengusir
tapi ketika mereka kembali karena tertolak oleh
semua orang,
muncul sifat tidak tega beliau.
Beliau berkata Ana Lahaa (akulah yg akan
membantu masalah kalian) ini para pendosa,
tidak ada lagi yang mau membela di hadapan
Allah, tidak ayahnya, tidak ibunya, tidak
kekasihnya, tidak keluarganya”. Siapa berani
membela pendosa? bayarannya adalah api
neraka.
Maka Beliau saw pun datang Kehadirat Allah
dan bersujud “wahai Allah umatku. umatku..”,
Allah berikan syafa’at bagimu wahai
Muhammad, beri syafa’at orang yang akan kau
beri syafa’at.
(…………………hb munzir terdiam dan tangisnya
pecah badan beliau bergetar hebat,airmatanya
mengalir dan kehilangan kata kata………)
Tangis beliau membuat suasana menjadi
riuh,didepan beliau ratusan jama'ahnya juga
ikut menagis,
Ketakutan habibana kepada Allah swt dan
kecinta'an beliau kepada Rasulullah saw terlihat
jelas,,
Hadirin hadirat saya tidak perlu berpanjang
lebar atas kasih sayang Nabi Muhammad Saw
terhadap kita.
Nari kita Renungkan betapa indahnya
idola kita, budi pekertinya dan beliau itu
ciptaan Allah yang terindah.
Subhanallah